Beranda » CERPEN » Bertemu Senja di Kala Senja

Bertemu Senja di Kala Senja

Social Media

”Facebook”  ”Twitter” 
 
 
Dan aku menemukan kisahku
yang kau tuliskan tentang kisahmu,
maka untuk ini pula,
kutuliskan kisahku, tentang kamu.
 
Tiga bagian paling menyenangkan dari kisah kita adalah; kusapa sebab kata, bercengkrama dalam maya, bersua kala senja. Ketiganya secara kronologis mengantarkan cara bagaimana kita menjalin tali persahabatan dan menghapus keasingan. Tak ingin banyak basa-basi, mari kuajak kau menikmati kisahku dalam tiga bagian itu.
 
Kusapa sebab kata; waktu itu tetiba kau mengikuti akun instagramku, dan aku secara tidak langsung telah kau ajak melihat bagaimana keseharianmu. Namamu Mutia Senja, mengingatkanku pada kisah klasik Sukab dan Alina! Ya, tentang Senja! Ingatan itu mengiringi proses mencari keseharianmu, terlintas dalam anganku tentang betapa engkau adalah Senja yang luar biasa dengan sederet prestasimu lewat diksi. Lantas aku menemukan alamat rumah mayamu, yang kau bilang bahwa disanalah kau menuangkan kisah sekilas hidup dan kehidupan seorang manusia yang memungut aksara-aksara Tuhannya, demi menciptakan seuntai karya ‘bermakna’ untuk sesama.
 
Aku tertegun, lama sekali aku mampir di rumahmu. Seperti dugaanku dan apa yang kau katakan di pagar rumah mayamu; begitu banyak potongan kisah disana, kamar-kamar kecil mayamu; tentang pengalamanmu, diksimu dan juga ulasan pertemuanmu dengan buku. Semua kunikmati satu persatu, hingga sampai pada kamar dimana aku mengalami dejavu! Di luar pintu kamar itu kau tuliskan “Menjumpa Rupa”!
 
Sejujurnya aku tak tahu, sengaja atau tidak kau mengikut-sertakan namaku di ruangan nostalgiamu, bahkan sempat membuang pikiran bahwa dua huruf yang kau tulis memanglah aku. Namun, di ambang pertanyaanku pada akhirnya kuberanikan bertanya padamu soal kisahmu di Kota Istimewa itu. Aku menyapamu, masih ingat? Kita begitu canggung dan saling heran tentang rahasia-rahasia yang perlahan beralih menjadi penjelasan.
 
Dari sanalah, sebab dan demi kata-kata … kusapa kau; Senja!
 
Bercengkrama dalam maya: Kemudian kita saling bertanya, menjawab dan berbagi cerita. Tentu saja lebih banyak tentang kata-kata, yang mempertemukan kita di ruang juara. Banyak sekali yang kita bincangkan, bukan? Bahkan sesekali kita bisa begitu lepas tertawa dalam rentetan kata-kata. Kemudian nostalgia menjadi satu kisah yang tak bosan kudengarkan, termasuk bagaimana kita sama-sama mengarungi kehidupan sebagai pemuda. Ah, pemuda yang penuh cita. Penuh angan-angan ataupun sering kita sebut; wacana! Kau asing mulanya, dan memang asing sebab baru hitungan hari kita bercengkerama, temu pun belum sempat kutangkap matamu, namun rasanya kau seperti kawan lama, yang sama-sama merintis kata-kata, yang sama-sama berjuang menuai karya serta bersambung dalam canda-canda bahasa.
 
Sekali pernah aku ingin mengunjungimu, kukira pelantang lawan yang kini belum ditemukan akan menjadi saksi perjumpaan kedua kita di Surakarta, sayang seribu sayang Tuhan punya kuasa untuk menahan dan bersabar di perencanaan berikutnya. Kemudian tiba di penghujung Februari kau katakan akan berkunjung kesini, ikut menjadi saksi atas rupa-rupa yang kusaji di sini, Jogja.
 
Bersua kala senja; Awal maret, kau tak bercanda. Semestinya aku percaya dan menghilangkan risau tentang sua yang tak akan sia-sia. Semenjak pagi, kau tahu aku menanti, hingga siang kau pun tahu aku menantang. Hingga kesabaranku pelan-pelan kau obati, tepat di kala senja sebentar lagi tiba, kau, Senja; menghampiriku.
 
Kukira, kita akan saling sungkan untuk bertanya. Ternyata, tak begitu. Kau dan kawanmu seperti halnya kawan baru, malu-malu dan bingung hendak apa. Aku tak perlu menuliskan apa saja yang kita lalui seputaran jarum senja sore itu, bukan? Tentu kau tahu apa saja yang terjadi.
 
Kau ingat? Kita merangkai sebuah puisi tentang senja dan menyelesaikannya tepat di kala senja. Meja bundar yang ada di hadapan kita pada latar buku itu, ikut menjadi saksi. Untuk kuakhiri tulisan ini kiranya, boleh kutulis pula puisi itu;
 
Senja
 
Adakah cara lain
Untuk mengenang kemuning kening langit sore ?
Selain menyaksikan ombak bergulingan,
Dengan buih sore sisa di tepi Yang menyapa kaki saat sanding berdiri?
 
Sedangkan gelombang selalu saja menikam kenang
Pada gemuruhnya yang seakan memaksa untuk tetap berpangku pada kata
Barangkali saat segala memoriku terkuak
Senja masih saja setia menunggu
Bagaikan benih pasir layaknya rupa huruf yang harus kususun rapi
Agar layak kupersembahkan padamu
 
Senja,
Masih bisakah gemuruh gurih gelombang itu
Melepas rindu pada jeruji kata pada waktu?
Aku ingin menyaksikan senja dengan persembahan kata,
Yang merayu serupa angin menggulung ombak biru,
Atau seperti cakrawala yang menyembunyikan batasmu,
 
Setelah beberapa jarak kulabuhkan puisiku
Saat senja tak lagi menampakkan diri
Sebab hujan telah menikamnya dengan tanpa perasaan
Sepertinya alam ingin membalas dendam atas rekayasa warna
Yang sesaat hilang tertikam mendung dan rerintik hujan
 
Sudah,
Pada akhirnya aku menyaksikan dua senja hari ini ..
Ternyata mereka sama,
Membisu dengan bahasa warnanya ..
 
Senja pun bungkam sebab senja yang lain telah mewakilkannnya
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: