Arsip Bulanan

Pilihan Kategori

Terjemahkan Ke Bahasa

Pengunjung

  • 3,450 Orang
Follow EGY MOHAMMAD ZAIN on WordPress.com

Subcribe Blog dan terima kiriman baru melalui email anda

Kejadian/Hal Aneh dan Unik yang Terjadi di Bulan Puasa Ramadhan yang Suci

           Bulan suci ramadhan yang suci dan penuh berkah adalah bulan yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang islam yang beriman. Di bulan ramadhan, setiap orang beriman diwajibkan untuk melakukan ibada puasa sebulan penuh, serta sangat dianjurkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya selama bualan romadhon. Pahala yang berlipat ganda serta ampunan dosa dijanjikan Allah SWT bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Di samping itu bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan hal-hal unik bagi masyarakat indonesia.

Kira-kira apa saja kejadian, peristiwa, fakta, aktivitas atau hal-hal apa saja yang menarik untuk kita ketahui selama bulan ramadan yang kita temui setahun sekali. Mari kita lihat hal-hal berikut ini :

(lebih…)

Iklan

Doa Untuk Rembulanku

Nazea, gadis bermata indah kecoklatan itu menatapku dari jauh. Ia melambaikan tangannya seakan membujukku untuk menghampirinya. Segaris senyum terlukis di bibirnya. Raut wajahnya begitu ceria bagaikan rembulan yang menyinari malamku. Seseorang yang bisa kutatap malam ini hanyalah dirinya meski orang-orang berlalu lalang di antara kami. Sungguh aku terpana pada pesonanya yang mampu menggetarkan hatiku.

“Handy!” sahutnya dari kejauhan.

(lebih…)

Bertemu Senja di Kala Senja

 
 
Dan aku menemukan kisahku
yang kau tuliskan tentang kisahmu,
maka untuk ini pula,
kutuliskan kisahku, tentang kamu.
 
Tiga bagian paling menyenangkan dari kisah kita adalah; kusapa sebab kata, bercengkrama dalam maya, bersua kala senja. Ketiganya secara kronologis mengantarkan cara bagaimana kita menjalin tali persahabatan dan menghapus keasingan. Tak ingin banyak basa-basi, mari kuajak kau menikmati kisahku dalam tiga bagian itu.
 
Kusapa sebab kata; waktu itu tetiba kau mengikuti akun instagramku, dan aku secara tidak langsung telah kau ajak melihat bagaimana keseharianmu. Namamu Mutia Senja, mengingatkanku pada kisah klasik Sukab dan Alina! Ya, tentang Senja! Ingatan itu mengiringi proses mencari keseharianmu, terlintas dalam anganku tentang betapa engkau adalah Senja yang luar biasa dengan sederet prestasimu lewat diksi. Lantas aku menemukan alamat rumah mayamu, yang kau bilang bahwa disanalah kau menuangkan kisah sekilas hidup dan kehidupan seorang manusia yang memungut aksara-aksara Tuhannya, demi menciptakan seuntai karya ‘bermakna’ untuk sesama.
 
Aku tertegun, lama sekali aku mampir di rumahmu. Seperti dugaanku dan apa yang kau katakan di pagar rumah mayamu; begitu banyak potongan kisah disana, kamar-kamar kecil mayamu; tentang pengalamanmu, diksimu dan juga ulasan pertemuanmu dengan buku. Semua kunikmati satu persatu, hingga sampai pada kamar dimana aku mengalami dejavu! Di luar pintu kamar itu kau tuliskan “Menjumpa Rupa”!
 
Sejujurnya aku tak tahu, sengaja atau tidak kau mengikut-sertakan namaku di ruangan nostalgiamu, bahkan sempat membuang pikiran bahwa dua huruf yang kau tulis memanglah aku. Namun, di ambang pertanyaanku pada akhirnya kuberanikan bertanya padamu soal kisahmu di Kota Istimewa itu. Aku menyapamu, masih ingat? Kita begitu canggung dan saling heran tentang rahasia-rahasia yang perlahan beralih menjadi penjelasan.
 
Dari sanalah, sebab dan demi kata-kata … kusapa kau; Senja!
 
Bercengkrama dalam maya: Kemudian kita saling bertanya, menjawab dan berbagi cerita. Tentu saja lebih banyak tentang kata-kata, yang mempertemukan kita di ruang juara. Banyak sekali yang kita bincangkan, bukan? Bahkan sesekali kita bisa begitu lepas tertawa dalam rentetan kata-kata. Kemudian nostalgia menjadi satu kisah yang tak bosan kudengarkan, termasuk bagaimana kita sama-sama mengarungi kehidupan sebagai pemuda. Ah, pemuda yang penuh cita. Penuh angan-angan ataupun sering kita sebut; wacana! Kau asing mulanya, dan memang asing sebab baru hitungan hari kita bercengkerama, temu pun belum sempat kutangkap matamu, namun rasanya kau seperti kawan lama, yang sama-sama merintis kata-kata, yang sama-sama berjuang menuai karya serta bersambung dalam canda-canda bahasa.
 
Sekali pernah aku ingin mengunjungimu, kukira pelantang lawan yang kini belum ditemukan akan menjadi saksi perjumpaan kedua kita di Surakarta, sayang seribu sayang Tuhan punya kuasa untuk menahan dan bersabar di perencanaan berikutnya. Kemudian tiba di penghujung Februari kau katakan akan berkunjung kesini, ikut menjadi saksi atas rupa-rupa yang kusaji di sini, Jogja.
 
Bersua kala senja; Awal maret, kau tak bercanda. Semestinya aku percaya dan menghilangkan risau tentang sua yang tak akan sia-sia. Semenjak pagi, kau tahu aku menanti, hingga siang kau pun tahu aku menantang. Hingga kesabaranku pelan-pelan kau obati, tepat di kala senja sebentar lagi tiba, kau, Senja; menghampiriku.
 
Kukira, kita akan saling sungkan untuk bertanya. Ternyata, tak begitu. Kau dan kawanmu seperti halnya kawan baru, malu-malu dan bingung hendak apa. Aku tak perlu menuliskan apa saja yang kita lalui seputaran jarum senja sore itu, bukan? Tentu kau tahu apa saja yang terjadi.
 
Kau ingat? Kita merangkai sebuah puisi tentang senja dan menyelesaikannya tepat di kala senja. Meja bundar yang ada di hadapan kita pada latar buku itu, ikut menjadi saksi. Untuk kuakhiri tulisan ini kiranya, boleh kutulis pula puisi itu;
 
Senja
 
Adakah cara lain
Untuk mengenang kemuning kening langit sore ?
Selain menyaksikan ombak bergulingan,
Dengan buih sore sisa di tepi Yang menyapa kaki saat sanding berdiri?
 
Sedangkan gelombang selalu saja menikam kenang
Pada gemuruhnya yang seakan memaksa untuk tetap berpangku pada kata
Barangkali saat segala memoriku terkuak
Senja masih saja setia menunggu
Bagaikan benih pasir layaknya rupa huruf yang harus kususun rapi
Agar layak kupersembahkan padamu
 
Senja,
Masih bisakah gemuruh gurih gelombang itu
Melepas rindu pada jeruji kata pada waktu?
Aku ingin menyaksikan senja dengan persembahan kata,
Yang merayu serupa angin menggulung ombak biru,
Atau seperti cakrawala yang menyembunyikan batasmu,
 
Setelah beberapa jarak kulabuhkan puisiku
Saat senja tak lagi menampakkan diri
Sebab hujan telah menikamnya dengan tanpa perasaan
Sepertinya alam ingin membalas dendam atas rekayasa warna
Yang sesaat hilang tertikam mendung dan rerintik hujan
 
Sudah,
Pada akhirnya aku menyaksikan dua senja hari ini ..
Ternyata mereka sama,
Membisu dengan bahasa warnanya ..
 
Senja pun bungkam sebab senja yang lain telah mewakilkannnya

CINTA RELATIVITAS MOTOR DAN BUNGA KAKTUSKU

Relatif. Seperti kecepatan motorku yang melaju di jalanan tiap harinya. Hanya rutinitas untuk memacu motor di jalanan tiap harinya-lah yang agaknya bisa dipredeksi dengan sedikit kepastian, ini pun masih bisa dibilang relatif. Tapi, apakah ada di dunia ini yang tidak relatif, bahkan hukum alam pun mulai bisa berjalan dalam relatifitas manusia.

Manusia, dengan segala kecanggihannya telah mampu melawan gravitasi, menerbangkan material yang puluhan abad lalu dianggap tak kan mampu terbang. Gravitasi bumi mulai beranjak relatif, tergantung pada apa dan siapa yang melawannya. Matematika mengikuti hukum alam, relatif. Ia hanya kesepakatan angka-angka untuk mengukur relatifitas hukum alam. 1 + 1 = 2, 2 – 1 = 1, dst, hanya kesepakatan mutlak, bukan kepastian mutlak. Bagaimana dengan cuaca? Tak ada lagi penanggalan pertanian jawa, semisal bulan Desember adalah gedhe-gedhene sumber, atau seret untuk bulan maret yang berarti memasuki musim panas, tak cocok untuk memulai tanam. Cuaca mulai berjalan relatif juga, tergantung sesuka hati mereka memainkan hujan atau panas ekstrim. Semesta akhirnya relatif. “Hei, kau mengacaukannya. Jangan-jangan kau akan bilang bahwa Tuhan relatif…!!!” sentakan suara mengagetiku. Aku hanya diam mendengarnya. Dalam hati aku menertawainya, mana mungkin aku memasukkan Tuhan dalam keadaaan relatifitas khayalku. Justru hanya Tuhan yang tak kuragukan kemutlakan-Nya.

Oh, cinta – seperti halnya ciptaan Tuhan lainnya, masih berada dalam relatifitas, seperti relatifitas kecepatan motorku, begitulah yang kupahami darinya. Bisa melaju kencang, atau tiba-tiba mengeremnya mendadak, atau berjubel dalam kesemrawutan jalanan macet di perkotaan, atau juga – ini yang menyakitkan, kau mengalami kecelakaan karena tak mampu mengendalikan, akibatnya remuk untuk motor, dan patah untuk hati, laju cintamu terlalu kencang lalu kau sadari kau telah menabrak kenyataan.

Cinta – relatif, motor – relatif. Satu yang mungkin pasti, apapun keadaannya kau masih akan bisa tersenyum dalam frustasi kemacetan jalan di tengah terik siang yang menyengat saat yang kau bonceng adalah orang yang sangat kau cinta. Haha, ternyata cinta mampu membuat kepastian senyuman. “Ah, kau ini tak konsisten, tadi bilang cinta relatif, sekarang tiba-tiba bisa membuat kepastian” suara protes mengalun pelan lalu menamparku. “Sudah kubilang di awal kan, apa yang tidak relatif, termasuk pikiranku” belaku. Apapun yang kutakatakan tadi tentang relatifitas, aku tak sedikitpun menganjurkanmu untuk menyetujuinya.

Oke, aku tak mau membicarakan lagi relatifitas dalam khayalanku. Aku hanya ingin kau, jika kau mau, membantuku mencarikan kaktus untuk kekasihku. “Kau gila? Dimana-mana orang memberikan mawar untuk kekasihnya, bukan kaktus. Oh, kau tak mau dianggap terlalu mainstream begitu, kan?” bukan, bukan. Sungguh ini bukan untuk membuat semacam diferensiasi dari kebudayaan yang telah bertahan selama berabad. Jika saja mentalku mampu, hasrat terbesarku saat ini adalah memberinya bunga mawar. Sayangnya, kondisi jiwaku terus merayu dan mencuci otakku untuk menganggap kaktuslah yang lebih indah dari mawar.

Duh Gusti, apa gerangan lagi ini. kenapa bisikan itu meyakinkanku hingga aku menggebu mencarikan kaktus demi relatifitas cinta. Jika semua yang ada di dunia relatif, kenapa tidak mawar saja yang kuberikan padanya. Kenapa harus kaktus yang susah dicari itu. Tanaman yang penuh duri pula. Tapi tunggu, aku mulai menyukainya. Ia punya sedikit kemungkinan untuk keluar dari khayalan relatifitasku. Kaktus menghadapi kenyataan dirinya sendiri bahwa ia adalah tanaman berduri. Kaktus terasing dari jajaran simbol budaya cinta, hidup terasing dari kawan-kawannya sesama bunga, bahkan mungkin ia tak dikategorikan bunga. Kaktus punya kepastian untuk dirinya sendiri, memastikan orang lain tahu bahwa ia penuh oleh duri agar tak mereka sentuh, tak mati oleh sedikit persediaan air. Akar-akarnya menancap kuat di bawah tanah, mencari sesuatu yang meyakinkannya untuk hidup dengan harapan akan adanya kepastian tentang keberlangsungannya, kepastian untuk melawan terik, kepastian akan mekarnya bunga sehingga ia rela menunggu lebih lama dari jenis bunga lain untuk memekarkan kembangnya.

Duh Gusti, kaktuskanlah cintaku ini, agar kuat akar-akarnya dalam pencarian air suci-Mu. Kaktuskanlah cintaku, agar sabar menunggu bermekarnya bunga kedamaian-Mu. Kaktuskanlah cintaku, agar ia bertahan dan setia dalam hadirat-Mu meski harus terasing di tanah tandus. Kaktuskanlah cintaku, agar mampu menjaga dirinya sendiri tanpa menipu orang lain. Kaktuskanlah cintaku, untuk kejujurannya menampakkan duri-duri penjaganya agar tak membuat orang lain terluka. Jika saja, Duh Gusti, Engkau ijinkan, mawar, ephorbia, putri malu, dan bunga-bunga lain untuk merasakan, aku ingin Engkau juga mengkaktuskan mereka semua, tentu dengan tetap pada keindahan dan keunikan pribadi mereka. Sehingga aku mampu memilih salah satu dari mereka untuk kuberikan pada kekasihku, bukan kaktus itu sendiri.

Relatif. Seperti kecepatan motorku yang melaju di jalanan tiap harinya. Hanya rutinitas untuk memacu motor di jalanan tiap harinya-lah yang agaknya bisa dipredeksi dengan sedikit kepastian, ini pun masih bisa dibilang relatif. Tapi, apakah ada di dunia ini yang tidak relatif, bahkan hukum alam pun mulai bisa berjalan dalam relatifitas manusia.

Manusia, dengan segala kecanggihannya telah mampu melawan gravitasi, menerbangkan material yang puluhan abad lalu dianggap tak kan mampu terbang. Gravitasi bumi mulai beranjak relatif, tergantung pada apa dan siapa yang melawannya. Matematika mengikuti hukum alam, relatif. Ia hanya kesepakatan angka-angka untuk mengukur relatifitas hukum alam. 1 + 1 = 2, 2 – 1 = 1, dst, hanya kesepakatan mutlak, bukan kepastian mutlak. Bagaimana dengan cuaca? Tak ada lagi penanggalan pertanian jawa, semisal bulan Desember adalah gedhe-gedhene sumber, atau seret untuk bulan maret yang berarti memasuki musim panas, tak cocok untuk memulai tanam. Cuaca mulai berjalan relatif juga, tergantung sesuka hati mereka memainkan hujan atau panas ekstrim. Semesta akhirnya relatif. “Hei, kau mengacaukannya. Jangan-jangan kau akan bilang bahwa Tuhan relatif…!!!” sentakan suara mengagetiku. Aku hanya diam mendengarnya. Dalam hati aku menertawainya, mana mungkin aku memasukkan Tuhan dalam keadaaan relatifitas khayalku. Justru hanya Tuhan yang tak kuragukan kemutlakan-Nya.

Oh, cinta – seperti halnya ciptaan Tuhan lainnya, masih berada dalam relatifitas, seperti relatifitas kecepatan motorku, begitulah yang kupahami darinya. Bisa melaju kencang, atau tiba-tiba mengeremnya mendadak, atau berjubel dalam kesemrawutan jalanan macet di perkotaan, atau juga – ini yang menyakitkan, kau mengalami kecelakaan karena tak mampu mengendalikan, akibatnya remuk untuk motor, dan patah untuk hati, laju cintamu terlalu kencang lalu kau sadari kau telah menabrak kenyataan.

Cinta – relatif, motor – relatif. Satu yang mungkin pasti, apapun keadaannya kau masih akan bisa tersenyum dalam frustasi kemacetan jalan di tengah terik siang yang menyengat saat yang kau bonceng adalah orang yang sangat kau cinta. Haha, ternyata cinta mampu membuat kepastian senyuman. “Ah, kau ini tak konsisten, tadi bilang cinta relatif, sekarang tiba-tiba bisa membuat kepastian” suara protes mengalun pelan lalu menamparku. “Sudah kubilang di awal kan, apa yang tidak relatif, termasuk pikiranku” belaku. Apapun yang kutakatakan tadi tentang relatifitas, aku tak sedikitpun menganjurkanmu untuk menyetujuinya.

Oke, aku tak mau membicarakan lagi relatifitas dalam khayalanku. Aku hanya ingin kau, jika kau mau, membantuku mencarikan kaktus untuk kekasihku. “Kau gila? Dimana-mana orang memberikan mawar untuk kekasihnya, bukan kaktus. Oh, kau tak mau dianggap terlalu mainstream begitu, kan?” bukan, bukan. Sungguh ini bukan untuk membuat semacam diferensiasi dari kebudayaan yang telah bertahan selama berabad. Jika saja mentalku mampu, hasrat terbesarku saat ini adalah memberinya bunga mawar. Sayangnya, kondisi jiwaku terus merayu dan mencuci otakku untuk menganggap kaktuslah yang lebih indah dari mawar.

Duh Gusti, apa gerangan lagi ini. kenapa bisikan itu meyakinkanku hingga aku menggebu mencarikan kaktus demi relatifitas cinta. Jika semua yang ada di dunia relatif, kenapa tidak mawar saja yang kuberikan padanya. Kenapa harus kaktus yang susah dicari itu. Tanaman yang penuh duri pula. Tapi tunggu, aku mulai menyukainya. Ia punya sedikit kemungkinan untuk keluar dari khayalan relatifitasku. Kaktus menghadapi kenyataan dirinya sendiri bahwa ia adalah tanaman berduri. Kaktus terasing dari jajaran simbol budaya cinta, hidup terasing dari kawan-kawannya sesama bunga, bahkan mungkin ia tak dikategorikan bunga. Kaktus punya kepastian untuk dirinya sendiri, memastikan orang lain tahu bahwa ia penuh oleh duri agar tak mereka sentuh, tak mati oleh sedikit persediaan air. Akar-akarnya menancap kuat di bawah tanah, mencari sesuatu yang meyakinkannya untuk hidup dengan harapan akan adanya kepastian tentang keberlangsungannya, kepastian untuk melawan terik, kepastian akan mekarnya bunga sehingga ia rela menunggu lebih lama dari jenis bunga lain untuk memekarkan kembangnya.

Duh Gusti, kaktuskanlah cintaku ini, agar kuat akar-akarnya dalam pencarian air suci-Mu. Kaktuskanlah cintaku, agar sabar menunggu bermekarnya bunga kedamaian-Mu. Kaktuskanlah cintaku, agar ia bertahan dan setia dalam hadirat-Mu meski harus terasing di tanah tandus. Kaktuskanlah cintaku, agar mampu menjaga dirinya sendiri tanpa menipu orang lain. Kaktuskanlah cintaku, untuk kejujurannya menampakkan duri-duri penjaganya agar tak membuat orang lain terluka. Jika saja, Duh Gusti, Engkau ijinkan, mawar, ephorbia, putri malu, dan bunga-bunga lain untuk merasakan, aku ingin Engkau juga mengkaktuskan mereka semua, tentu dengan tetap pada keindahan dan keunikan pribadi mereka. Sehingga aku mampu memilih salah satu dari mereka untuk kuberikan pada kekasihku, bukan kaktus itu sendiri. dari mereka untuk kuberikan pada kekasihku, bukan kaktus itu sendiri.

CINTA?

Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling  mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian. Cinta itu sendiri sama sekali tidak dapat dipaksakan, cinta hanya dapat berjalan apabila kedua belah pihak ikhlas, cinta tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri sendiri. Karena dalam berhubungan, pasangan kita pasti menginginkan suatu perhatian lebih dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya. (lebih…)

Pakaian yang Gak Direkomendasiin Dipakai Cowok Buat Kuliah

Pakaian yang Gak Direkomendasiin Dipakai Cowok Buat Kuliah
(Sumber: Istimewa)

Kata siapa fashion itu cuma punya cewek. Ternyata cowok pun harus punya selera fashion buat kegiatan sehari-hari. Meski suka dibilang model baju cowok cuma itu-itu aja, tetep aja jenis dan fungsinya itu bervariasi dan susah dihapalkan.

Emang sih kalo dunia fashion cowok emang engga seramai cewek, tapi bukan berarti cowok harus tampil asal-asalan. Apalagi kalo pakaiannya dipakai buat kuliah, salah-salah pilih baju bukan cuma gebetan yang minggat, bisa-bisa dosen langsung suruh kamu tutup pintu dari ‘luar.’

Buat menghindari kejadian engga ngenakin buat kamu, sekarang Genmuda.com mau kasih referensi sejumlah pakaian yang harus dihindari oleh cowok buat dipakai saat kuliah. Langsung kepoin sampai artikel ini kelar ya:

(lebih…)

ANNA

Ketahuilah! Melepaskan bukan berarti meniadakan cinta. Ah,jangan dulu kita bicara soal melepaskan. Terlalu sakit. Sebaiknya kita bicara soal pertemuan. Empat tahun yang lalu, di sebuah lembaga bimbingan belajar, kala itu aku masih kelas tiga SMA. Aku bertemu dengannya, seorang gadis berwajah manis, berpipi gembul, tersenyum anggun. Aku ingat betul, saat itu ia mengenakan jilbab berwarna … Baca lebih lanjut

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930